Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=235
Allahhumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad;
ruh bersaksi sederaian gerimis mengantarkan rasa atmosfer semesta
terkumpul di dasar laut di kedalaman rongga dada pujangga (I).
Mengatup manggar sayang, mengadu dataran gurun,
gapaian kalbu menyingkap suluran tabir, berdentaman tembang ganjil (II).
1993
1995
1997
Aguk Irawan Mn
Agus B Harianto
Agus B. Harianto
Ahmad Syauqillah
Andhi Setyo Wibowo
Andika Ananda
Andong Buku #3
Arti Bumi Intaran
Balada
Balada-Balada Takdir Terlalu Dini (Ballads of Too Early Destiny)
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Utama
Biografi Nurel Javissyarqi
Brunel University London
Buku Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Daniel Paranamesa
Denny Mizhar
Diskusi 3 Buku Sastra 22 Juli 2011 di Yogyakarta
Eka Budianta
Enda Menzies
Hamdy Salad
Ibnu Wahyudi
In memoriam
Indrian Koto
Iskandar Noe
Jogjakarta
Jombang
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf An
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kata-kata Mutiara
Kedai Sinau Malang
Kitab Para Malaikat (the book of the angels)
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Kritik Sastra
Kulya dalam Relung Filsafat
Laksmi Shitaresmi
Lamongan
Lathifa Akmaliyah
Leo Tolstoy
M. Yoesoef
Media: Crayon on Paper
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Murnierida Pram
Naskah Teater
Nurel Javissyarqi
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
PDS. H.B. Jassin
Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi)
Puisi
Pustaka Ilalang
Pustaka Ilalang Group
PUstaka puJAngga
Reuni Perdana Mts Putra-Putri Simo-Sungelebak 1991-1992
Robin Al Kautsar
Sabrank Suparno
Samsul Anam
Sanggar Lukis Alam
Sanggar Teater Jerit
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
SelaSastra ke #24 di Warung Boenga Ketjil
Sihar Ramses Simatupang
Siwi Dwi Saputro
Sofyan RH. Zaid
Sony Prasetyotomo
Sunu Wasono
Syaifuddin Gani
Tarmuzie (1961-2019)
Ts. Pinang
Ujaran
Universitas Indonesia
Veronika Ninik
Welly Kuswanto
Wislawa Dewi
Tampilkan postingan dengan label Kitab Para Malaikat (the book of the angels). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Para Malaikat (the book of the angels). Tampilkan semua postingan
5.31.2010
MEMBUKA RAGA PADMI, I: I - XCIII
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=233
Ketika dunia berupa kabut pekat, siapa berkata?
Manakala embun belum terlahir, siapa menggapai?
Di saat sejarah belum tercatat, siapa berbicara kata?
Wewaktu masih berupa potongan-potongan cahaya,
siapa yang dahulu menempati lautan es cahaya? (I: I).
http://pustakapujangga.com/?p=233
Ketika dunia berupa kabut pekat, siapa berkata?
Manakala embun belum terlahir, siapa menggapai?
Di saat sejarah belum tercatat, siapa berbicara kata?
Wewaktu masih berupa potongan-potongan cahaya,
siapa yang dahulu menempati lautan es cahaya? (I: I).
HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I - CXIII
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=231
Ia tak pernah menjatuhkan vonis kematian kedua kali, kecuali kau
naik banding, serupa mati surinya pemegang sapu lidi di makam Ampel (II: I).
Tahukah kau mengenai tercerabutnya nyawa? Sebuah awal perjalanan baru
berakhirnya kesedihan menuju kelanggengan kasih sayang (II: II).
http://pustakapujangga.com/?p=231
Ia tak pernah menjatuhkan vonis kematian kedua kali, kecuali kau
naik banding, serupa mati surinya pemegang sapu lidi di makam Ampel (II: I).
Tahukah kau mengenai tercerabutnya nyawa? Sebuah awal perjalanan baru
berakhirnya kesedihan menuju kelanggengan kasih sayang (II: II).
5.30.2010
BAIT-BAIT PERSEMBAHAN, III: I - XCIII
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=229
Istirahlah perempuan agung, sambut mentari esok lewat sedenyar fajar
dan tunjukkan wajah berserimu di hadapan cahaya (III: I).
Bila berjaga, dekaplah kantuk berselimutkan mesra,
akan tetapi lebih terpuji, mengupas berbathin ketenangan (III: II).
http://pustakapujangga.com/?p=229
Istirahlah perempuan agung, sambut mentari esok lewat sedenyar fajar
dan tunjukkan wajah berserimu di hadapan cahaya (III: I).
Bila berjaga, dekaplah kantuk berselimutkan mesra,
akan tetapi lebih terpuji, mengupas berbathin ketenangan (III: II).
RUANG-RUANG MENGABADIKAN, IV: I - XCVIII
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=227
Suara gending-gending masih megalun dalam jiwamu,
walau tetabuhannya telah dihentikan, merasakan diamnya ke puncak membiru
lalu sukma berbisik, mengetuk jendela perempuan-perempuan abadi (IV: I).
Ketukan tembang mengalun ke tangga pesawahan wewaktu,
ia membuat minuman yang paling kau sukai sehabis berlatih lama
pepohon kehidupan itu menggeraikan tetangkai usiamu (IV: II).
http://pustakapujangga.com/?p=227
Suara gending-gending masih megalun dalam jiwamu,
walau tetabuhannya telah dihentikan, merasakan diamnya ke puncak membiru
lalu sukma berbisik, mengetuk jendela perempuan-perempuan abadi (IV: I).
Ketukan tembang mengalun ke tangga pesawahan wewaktu,
ia membuat minuman yang paling kau sukai sehabis berlatih lama
pepohon kehidupan itu menggeraikan tetangkai usiamu (IV: II).
MUSIK-TARIAN KEABADIAN, V: I - LXXIV
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=225
Bisikan hujan malam mengajakmu menari-nari membasahi seluruh tubuh,
mengguyur jiwamu bersayap beku, lantas nyalakan tungku dalam kalbu (V: I).
Bayu meniup api melambai, bara bergolak ke uluh hati, dan prasangka
tumpah merajah prahara, menelusup ke dada, meruh ke dalam sukma (V: II).
http://pustakapujangga.com/?p=225
Bisikan hujan malam mengajakmu menari-nari membasahi seluruh tubuh,
mengguyur jiwamu bersayap beku, lantas nyalakan tungku dalam kalbu (V: I).
Bayu meniup api melambai, bara bergolak ke uluh hati, dan prasangka
tumpah merajah prahara, menelusup ke dada, meruh ke dalam sukma (V: II).
DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I - LXXVII
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=223
Udara wengi mekar perlahan, membawakan berita dari dasar keheningan,
merasakan sayap keagungan kedaton, yang digerakkan ruh suci kehidupan (VI: I).
Langkah kata-kata mengikuti kehendak hembusan semerbak bayu mesrah,
waktu-waktu memijarkan benang cahayanya dalam degupan cinta sesama (VI: II).
http://pustakapujangga.com/?p=223
Udara wengi mekar perlahan, membawakan berita dari dasar keheningan,
merasakan sayap keagungan kedaton, yang digerakkan ruh suci kehidupan (VI: I).
Langkah kata-kata mengikuti kehendak hembusan semerbak bayu mesrah,
waktu-waktu memijarkan benang cahayanya dalam degupan cinta sesama (VI: II).
KEINGINAN-KEINGINAN MULIA, VII: I - LXXXVII
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=221
Deburan tinta hitam dihabiskan demi gairah kobaran,
langit bergemintang di dalam tungku kegelapan (VII: I).
Bebijian api memercik menerangkan malam,
berbara sebelum dijemput abu usia (VII: II).
http://pustakapujangga.com/?p=221
Deburan tinta hitam dihabiskan demi gairah kobaran,
langit bergemintang di dalam tungku kegelapan (VII: I).
Bebijian api memercik menerangkan malam,
berbara sebelum dijemput abu usia (VII: II).
DI ATAS TANDU LANGITAN, VIII: I - CXXIII
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=219
Ujung pena meluncur dari dasar keheningan, ketajaman kalimah
menghunus, menembusi diamnya waktu tersampaikan telempap (VIII: I).
Dia tidak mengikuti siapa-siapa, dirinya tegar lagi murni (VIII: II).
http://pustakapujangga.com/?p=219
Ujung pena meluncur dari dasar keheningan, ketajaman kalimah
menghunus, menembusi diamnya waktu tersampaikan telempap (VIII: I).
Dia tidak mengikuti siapa-siapa, dirinya tegar lagi murni (VIII: II).
ANAK SUNGAI FILSAFAT, IX: I - CI
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=217
Sekali sulutan memercikkan nyala abadi,
berapi kobarkan semangat jerami, diledakkan memberi gelisah (IX: I).
Titik kesadaran memijarkan sinar, gerak ketaklumrahan menjadi lentur,
fibrasinya kau resapi, hening tiada berloncatan, ricik tidak lagi merebak (IX: II).
http://pustakapujangga.com/?p=217
Sekali sulutan memercikkan nyala abadi,
berapi kobarkan semangat jerami, diledakkan memberi gelisah (IX: I).
Titik kesadaran memijarkan sinar, gerak ketaklumrahan menjadi lentur,
fibrasinya kau resapi, hening tiada berloncatan, ricik tidak lagi merebak (IX: II).
SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=215
Sebelum jauh tulisan ini melangkah, ingin menyapamu terlebih dulu;
apakah mimpi perlahan mulai sirnah, oleh sorot matahari menempa jiwa,
entah masih ada, malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa (X: I).
Yang datang terlambat tak seharusnya menghakimi sebelumnya
dengan ketentuan membuta, ingatlah bunga-bunga rontok sebelum mekar,
nalar mentah keluar terlalu dini, reranting menunggu lebat sayapnya (X: II).
http://pustakapujangga.com/?p=215
Sebelum jauh tulisan ini melangkah, ingin menyapamu terlebih dulu;
apakah mimpi perlahan mulai sirnah, oleh sorot matahari menempa jiwa,
entah masih ada, malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa (X: I).
Yang datang terlambat tak seharusnya menghakimi sebelumnya
dengan ketentuan membuta, ingatlah bunga-bunga rontok sebelum mekar,
nalar mentah keluar terlalu dini, reranting menunggu lebat sayapnya (X: II).
PENAMPAKAN DOA SEMALAM, XI: I- CVI
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=213
Darimu gairah meledakkan kulit dan isi, ruh hayat timur barat menggelinjak
ke dada awan merangkul ombak, ketika warna tak lagi persoalkan cahaya ( XI:I).
Kepadamu berakhirnya jiwa-jiwa dahaga, dayadinaya persetubuhan harum
merangsek di altar puja, kelepakan kekupu bercinta menggelepar lelah (XI:II).
http://pustakapujangga.com/?p=213
Darimu gairah meledakkan kulit dan isi, ruh hayat timur barat menggelinjak
ke dada awan merangkul ombak, ketika warna tak lagi persoalkan cahaya ( XI:I).
Kepadamu berakhirnya jiwa-jiwa dahaga, dayadinaya persetubuhan harum
merangsek di altar puja, kelepakan kekupu bercinta menggelepar lelah (XI:II).
DUKA TANGIS BUSA, XII: I - CXVIII
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=211
Saat bayu menggeraikan anak-anakan rambutmu,
awan-gemawan berarak menutupi kulit cakrawala (XII: I).
Sayap-sayapnya membentangi bukit tiada gemintang,
lantas terdengarlah gending-gending berasal lereng pedusunan,
tempat muasal persinggahannya langgam tiada berbilang (XII: II).
http://pustakapujangga.com/?p=211
Saat bayu menggeraikan anak-anakan rambutmu,
awan-gemawan berarak menutupi kulit cakrawala (XII: I).
Sayap-sayapnya membentangi bukit tiada gemintang,
lantas terdengarlah gending-gending berasal lereng pedusunan,
tempat muasal persinggahannya langgam tiada berbilang (XII: II).
GELOMBANG MERAWAT PANTAI, XIII: I - CXI
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=209
Dia menumpahkan sabda kelanggenggan gelombang,
luapan kabut menuruni semenanjung langit pulau sebrang
dan daya rindu tersirap cakrawala (XIII: I).
Ketika elang mengapung, kau tarik kendali sukmanya,
angin-ombak tiada berhenti menelusupi pori-pori pasirmu,
itu bayang dirinya telah sampai di gerbang penantian (XIII: II).
http://pustakapujangga.com/?p=209
Dia menumpahkan sabda kelanggenggan gelombang,
luapan kabut menuruni semenanjung langit pulau sebrang
dan daya rindu tersirap cakrawala (XIII: I).
Ketika elang mengapung, kau tarik kendali sukmanya,
angin-ombak tiada berhenti menelusupi pori-pori pasirmu,
itu bayang dirinya telah sampai di gerbang penantian (XIII: II).
MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I - CIX
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=207
Jalanan pekabutan menidurkan daun-daun, burung terbang tertutup gelap,
isyarat cerecahnya mengikuti musim, di mana bebijian berkembang-biak (XIV: I).
Barisan mega putih di langit ungu tempaan tua,
semua di bumi terlelap oleh ayunan gelombang, dan ia di jarak terdekat (XIV: II).
http://pustakapujangga.com/?p=207
Jalanan pekabutan menidurkan daun-daun, burung terbang tertutup gelap,
isyarat cerecahnya mengikuti musim, di mana bebijian berkembang-biak (XIV: I).
Barisan mega putih di langit ungu tempaan tua,
semua di bumi terlelap oleh ayunan gelombang, dan ia di jarak terdekat (XIV: II).
PEMBANGUN DUNIA GANJIL, XV: I - XCIII
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=205
Keberanianmu menggaris palet dengan tegas,
jujur saja, waktu lembut semakin dalam
setebal kelam gurat menohok, mencipta angin membiru (XV: I).
Datang tiba-tiba bertambah penuh,
seakan cawan yoni setia menanti panas lingga (XV: II).
http://pustakapujangga.com/?p=205
Keberanianmu menggaris palet dengan tegas,
jujur saja, waktu lembut semakin dalam
setebal kelam gurat menohok, mencipta angin membiru (XV: I).
Datang tiba-tiba bertambah penuh,
seakan cawan yoni setia menanti panas lingga (XV: II).
SIANG TUBUH, MALAM JIWANYA, XVI: I – CXIII
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=203
Setelah terhenti, dunia baru terlahir, wewarna bunga-bunga bermekaran
dicahayai langit, merangkum kelopak malam-siang silih berganti (XVI: I).
Di mana mencapai kutub menguasai kasih manunggal,
suratan takdir iramanya kata-kata bernada nasib, yang digubah atas
kidungan moyang, dari tirakat pujangga bertujuan mulia (XVI: II).
http://pustakapujangga.com/?p=203
Setelah terhenti, dunia baru terlahir, wewarna bunga-bunga bermekaran
dicahayai langit, merangkum kelopak malam-siang silih berganti (XVI: I).
Di mana mencapai kutub menguasai kasih manunggal,
suratan takdir iramanya kata-kata bernada nasib, yang digubah atas
kidungan moyang, dari tirakat pujangga bertujuan mulia (XVI: II).
SECERCAH CAHAYA KURNIA, XVII: I – CI
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=201
Pertanyaan-pertanyaan tumpah bagai seribu kehendak terlaksana,
memburu tak terjangkau, terpontang-panting mencari gagasan sayang (XVII: I).
Jiwa pencari terus bergelora, menyembul dari akar-akaran keyakinan,
kau pantul wajah bercermin, guna percepat tancapkan pendirian (XVII: II).
http://pustakapujangga.com/?p=201
Pertanyaan-pertanyaan tumpah bagai seribu kehendak terlaksana,
memburu tak terjangkau, terpontang-panting mencari gagasan sayang (XVII: I).
Jiwa pencari terus bergelora, menyembul dari akar-akaran keyakinan,
kau pantul wajah bercermin, guna percepat tancapkan pendirian (XVII: II).
TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I – CXXVII
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=199
Waktu semakin padat ditempuh, menuju puncak kabut cahaya,
namun hari-harimu, masih saja mengeja satuan-satuan aksara (XVIII: I).
Ia malu sebelum batu-batu itu kau duduki,
maka singgahlah di kedung, agar bertemu ketenangan ulung (XVIII: II).
http://pustakapujangga.com/?p=199
Waktu semakin padat ditempuh, menuju puncak kabut cahaya,
namun hari-harimu, masih saja mengeja satuan-satuan aksara (XVIII: I).
Ia malu sebelum batu-batu itu kau duduki,
maka singgahlah di kedung, agar bertemu ketenangan ulung (XVIII: II).
RUANG-WAKTU PADAT, XIX: I - XC
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=197
Pribadimu lenyap dalam pergumulan perasaan, sewaktu angin merangsek
mengumpulkan awan bimbang, diulur daya tarik layang bumi menjelajah (XIX: I).
Menjelang senja, berbondong merangkul cium jubah kemerah,
ada memberi cawan berisi madu, persembahkan cangkir penuh airmata,
ialah rupawan di atas ketinggian kepatuhanmu berkasih sayang (XIX: II).
http://pustakapujangga.com/?p=197
Pribadimu lenyap dalam pergumulan perasaan, sewaktu angin merangsek
mengumpulkan awan bimbang, diulur daya tarik layang bumi menjelajah (XIX: I).
Menjelang senja, berbondong merangkul cium jubah kemerah,
ada memberi cawan berisi madu, persembahkan cangkir penuh airmata,
ialah rupawan di atas ketinggian kepatuhanmu berkasih sayang (XIX: II).
Langganan:
Postingan (Atom)
Isi Kandungan Buku Kritik Sastra
- @ Mulanya
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (IV)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (V)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)
- # Akhirnya